Cak Imin Bicara Pesatnya Teknologi hingga Ceramah Habib Bahar

JawaPos.com – Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Abdul Muhaimin Iskandar (Cak Imin) menegaskan bahwa saat ini ghirah (semangat) keagamaan masyarakat tidak hanya muncul di masjid atau pesantren. Melainkan di tiap lini kehidupan.

Itu tak lepas dari pesatnya perkembangan teknologi informasi. “Jadi bagi orang NU dan pesantren, ghirah keagamaan itu biasa. Tapi sekarang di sosial media sungguh luar biasa,” ujar Cak Imin saat membuka Musabaqah Tilawatil Kitab di Kantor DPP PKB, Kamis (29/11).

Bagi Cak Imin, dunia informasi teknologi telah banyak mempengaruhi berbagai dimensi masyarakat. Mulai dari ghirah keagamaan hingga aktivitas sehari-hari masyarakat.

“Mal-mal udah mulai tutup karena sudah banyak lewat online. Penyajiannya cepat, pelayanannya memuaskan. Semua sedang berubah. Sekarang warung juga dah sepi, orang lebih menggunakan gojek untuk makan,” imbuhnya.

Oleh karena itu, Cak Imin menghimbau kepada peserta Musabaqah Kutab Kuning ini untuk tetap mengikuti proses perubahan ini dengan responsif. “Karena kita punya kaidah yang senantiasa kontekstual. Hari ini umat islam di Indonesia juga masih perlu untuk dipacu. Karena Indonesia sebagai pemeluk agama islam terbesar adalah wajah baru Islam Rahmatan Lil Alamin,” ungkap Cak Imin

Lebih lanjut Cak Imin menilai menjelang Pileg dan Pilpres ada fenomena simbol yang menonjol. Dan fenomena simbolik yang paling mudah untuk dimunculkan adalah agama.

“Simbolik yang paling mudah adalah agama, yang paling menyambung dengan psikologi masa sekaligus menyambung praktik keagamaan sehari-hari. Maka orang berbondong-bondong menjadi gus, gus sugi tidak tahu siapa, kemudian ada gus milenial, tiba-tiba ada kiai baru tanpa ilmu agama yang dalam,” ujar Cak Imin.

Dengan adanya fenomena tersebut, Cak Imin menghimbau kepada masyarakat untuk tetap waspada dan mengikuti kiai dan ulama.

“Oleh karena itu harus diantisipasi bahwa kita harus mengikuti kiai ulama yang benar-benar ilmu agamanya dalam. Kedalaman ilmu agama menjadi sarat. Kalau kedalaman ilmunya pas-pasan itu bahaya. Orang menyalahkan orang lain, dan seterusnya,” tandasnya.

Ia menambahkan, banyak ceramah-ceramah agama yang berkonotasi mendorong kekerasan dan permusuhan. Cak Imin lantas mencontohkan ceramah Habib Bahar yang menghina Jokowi.

“Ya kayak model-model gitu tuh ingin populer. Kedua memang pengalaman emosinya belum stabil sehingga tidak layak diikuti. Masyarakat atau publik harus pintar memilih habib atau ulama yang benar ilmunya,” tandasnya.

(gwn/JPC)